Pendidikan Islam

Diktis dan Atase Perancis Mulai Petakan Riset Kolaboratif Saintek

Tangerang (ikhlasberamalnews.com) — Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag dengan Atase Pendidikan Perancis mulai melakukan pemetaan kebutuhan riset kolaboratif bidang sain dan teknologi.

Pemetaan kebutuhan mulai dilakukan mengingat implementasi program ini rencananya akan mulai dilakukan pada 2019 mendatang. Sehingga, tahun ini diperlukan beberapa langkah persiapan.

Kedua belah pihak menggelar rapat bersama di Tangerang. Direktur Diktis Arskal Salim mengatakan, rapat bersama ini merupakan tindak lanjut pertemuan dirinya dengan Atase Pendidikan Perancis pada 22 Januari 2018. Rapat ini diikuti  pimpinan PTKIN yang mengelola fakultas-fakultas di bidang sains dan teknologi, ilmu kesehatan dan kedokteran, dan pertambangan.

Pertemuan ini, kata Arskal, telah memunculkan beberapa rencana program tindak lanjut, di antaranya: Short Course untuk calon guru besar, penelitian kolaboratif internasional, dan studi lanjut S-3 melalui Program 5000 Doktor.

“Program ini, baik penelitian maupun beasiswa studi lanjut di bidang sains dan teknologi, sebaiknya bersifat afirmasi. Kedutaan Perancis akan memberikan banyak kesempatan, termasuk untuk kursus bahasa yang dipercukupkan dengan pencapaian kompetensi bahasa di level A2 saja,” terang Arskal, Senin (05/01).

Penyesuaian standar ini dimaksudkan agar banyak warga Indonesia yang dapat mengakses progran ini sehingga berkesempatan belajar di Perancis. “Bahkan, saya juga berharap lulusan pesantren dapat mengaksesnya,” lanjutnya.

Atase pendidikan bidang kerjasama Sains dan Teknologi Perancis di Indonesia Nicholas Gascoin mengapresiasi langkah cepat Diktis dalam implementasi program kerjasama ini. Dia berharap awal tahun ini sudah teridentifikasi peta kebutuhan penelitian di bidang sain dan teknologi.

Menurutnya, selain dosen fakultas sain dan teknologi, dosen prodi sosial science juga dapat mengakses program bantuan ini. Namun demikian, dalam rangka menjawab kebutuhan guru besar di bidang sain dan teknologi, maka peserta short courses dipersaratkan telah mempunyai naskah hasil penelitian yang akan dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.

Nicholas menilai, peserta program kemitraan ini lebih baik adalah mahasiswa yang sedang atau sudah menempuh pendidikan program Doktor. Hal itu menurutnya akan mempermudah pelaksanaan kemitraan riset.

Pengalaman di negaranya, penggerak riset adalah para mahasiswa dan dosen yang telah menempuh jenjang Ph.D Program. Apalagi, kebanyakan jurnal dan publikasi pada Universitas di Perancis juga sudah terindeks di Thompson.

Hal sama disampaikan Perwakilan Perancis Indonesia, Syarah H. Sriyani. Menurutnya, ekspektasi pihak pengelola program kemitraan ini cukup tinggi sehingga persiapannya harus matang. “Jika memungkinkan, dalam program short course, peserta dapat menghasilan dua artikel untuk publikasi pada jurnal internasional,” katanya.

Kasubdit Penelitian Suwendi berharap pemetaan kebutuhan bisa dirumuskan dengan baik sehingga kemitraan ini dapat mempercepat penambahan jumlah professor pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. [n15]

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: