KUA

Mengapa Perlu Balai Nikah dan Manasik Haji? Ini Penjelasan Menag

Pontianak (ikhlasberamalnews.com) — Hingga penghujung tahun 2017 ini, Kementerian Agama Republik Indonesia telah merenovasi lebih dari 800 Balai Nikah dan Manasik Haji Kantor Urusan Agama (KUA) di seluruh Indonesia. Renovasi dilakukan dengan menggunakan skema pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Penyediaan Balai Nikah dan Manasik Haji pada KUA Kecamatan merupakan salah  satu upaya Kemenag untuk melakukan perbaikan layanan publik pada kehidupan beragama.  Hal ini dijelaskan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat meresmikan 25 Balai Nikah dan Manasik Haji Provinsi Kalimantan Barat.

“Mengapa dua (Balai Nikah dan Manasik Haji), karena dua hal inilah yang strategis berperan bagaimana kualitas kehidupan keagamaan masyarakat kita semakin membaik,” jelas Menag, Kamis (28/12).

Peningkatan kualitas KUA dengan keberadaan Balai Nikah dan Manasik Haji, bertujuan  untuk memberikan pendidikan keagamaan yang lebih baik kepada masyarakat.  “Ujungnya, kita berharap kualitas kehidupan beragama pun menjadi semakin baik,” imbuh Menag.

Balai Nikah Sebagai Tempat Pendidikan Keluarga

Menurut Menag Lukman, saat ini penyelenggaraan pelayanan pernikahan di KUA banyak diapresiasi masyarakat. Tak seperti masa lalu, pelayanan pernikahan di KUA selama jam kerja diberikan secara gratis. Sementara  pelayanan nikah di luar jam kerja dikenakan biaya Rp600ribu. Hal ini menjadikan masyarakat dapat melaksanakan pernikahan tanpa diganggu dengan pungutan-pungutan liar.

“Ini sudah baik,” kata Menag.

Namun, Menag mengaku prihatin dengan grafik angka perceraian yang cenderung meningkat. Data menunjukan semakin banyak orang kawin-cerai. Kekerasan dalam rumah tangga juga  semakin meningkat. Meski bersifat kasuistik, namun Menag minta jajarannya tidak berdiam diri.

“Oleh karena itu, Bimbingan Perkawinan mutlak dilakukan. Bimbingan Pra-Nikah, menjadi keniscayaan,” tegas Menag Lukman.

Keberadaan Balai Nikah  menurut Lukman diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk  melangsungkan pernikahan saja. Lebih dati itu, Balai Nikah menjadi tempat dilakukannya pendidikan keluarga bagi masyarakat.

Saat ini Kementerian Agama telah melakukan penyusunan kurikulum mengenai pernikahan dan kehidupan berkeluarga, yang diwujudkan dalam Bimbingan Perkawinan. Dengan adanya bimbingan perkawinan, Menag berharap masyarakat memiliki panduan bagaimana memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral. Saat ini terjadi pergeseran makna pentingnya lembaga perkawinan.

“Selama ini, kebanyakan dari kita masuk jenjang pernikahan seakan ‘terjun bebas’ saja, dan hanya berdasarkan ‘trial and error’ saja. Tak ada yang mendidik kita secara sistematis dan terstruktur; bagaimana sesungguhnya pernikahan itu harus dijalankan, apa makna keluarga, dan sebagainya,” lanjutnya.

Hal ini yang menurut Menag menjadikan munculnya permasalahan dalam keberlangsungan keluarga, seperti perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Padahal, lanjut  Lukman, keberlangsungan keluarga yang baik akan berdampak pada kehidupan bernegara yang baik pula. Peran utama dalam keluarga ada pada orang tua. Maka pasangan yang akan menikah, maupun pasangan yang sudah lama menikah, perlu terus belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Tak hanya mengetahui nilai-nilai dalam pernikahan, tapi juga penting bagaimana para orang tua memiliki pengetahuan pentingny keluarga bagi masyarakat.

“Pendidikan anak itu penting, tapi menurut hemat saya, pendidikan orang tua itu jauh lebih penting. Dan ini yang mungkin selama ini kita lalai,” kata Lukman.

“Untuk menjadi orang tua itu tidak mudah. Tidak mudah!,” tegas ayah tiga anak ini.

Sayangnya menurut Lukman, sesuatu yang tidak mudah itu tak ada sekolahnya. Padahal, hanya dari orang tua yang baik akan lahir anak-anak yang baik. Bimbingan perkawinan dan pendidikan pranikah yang akan dilakukan Kemenag akan diarah kan ke sana.

“Dan karenanya sarana untuk melakukan bimbingan-bimbingan itu perlu disiapkan. KUA kita tingkatkan fungsinya dengan keberadaan Balai nikah,” ujar Menag.

Ini yang menjadikan keberadaan Balai Nikah memiliki nilai strategis  untuk menghasilkan kehidupan umat beragama yang lebih baik lagi. Tak hanya menjadi tempat prosesi ijab kabul, Balai Nikah juga menjadi sarana untuk dilakukan pendidikan keluarga sejak pranikah hingga bimbingan perkawinan.

Manasik Haji, Tak  Hanya Sekedar Pendidikan Ritual

Peningkatan peran KUA selanjutnya adalah sebagai tempat manasik haji.  KUA ke depan diproyeksikan sebagai tempat bimbingan manasik haji. Menurut Menag, saat ini diperlukan umat beragama yang memiliki tingkat pemahaman yang semakin berkualitas terkait haji.

“Manasik haji jangan hanya diisi dengan bagaimana tata cara ritual manasik, kaifiyah, tata cara menjalankan syariat ibadah mahdlah haji. Tapi yang tidak kalah pentingnya, substansi dari haji itu,” harapnya.

Bagi Menag, berbagai makna substantif yang ada dalam pelaksanaan ibadah haji  harus mampu dikuasai umat. Oleh karena itu, manasik haji harus diberdayakan, untuk menjelaskan kepada umat  esensi dan substansi haji, tidak hanya berhenti pada ritual keagamaan saja.

“Maka lagi-lagi tempat untuk bimbingan manasik haji itu perlu disediakan. Dan kita ingin menjadikan KUA sebagai tempat yang bisa menjalankan fungsi-fungsi itu,” jelasnya.

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

%d bloggers like this: