kemenag

Tiga Cara Amsal Yowei Jaga Kerukunan Umat di Tanah Papua

Jakarta (Kemenag) — Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak madu, adalah harta harapan. Demikian syair lagu “Tanah Papua” yang dipopulerkan penyanyi Edo Kondologit.

Tak berlebihan bila Papua dianggap surga kecil yang jatuh ke bumi. Kekayaan alam yang melimpah dan terbentang indah di tanah Papua, makin lengkap dengan kerukunan warga yang terdiri dari berbagai macam latar belakang suku dan agama.

Demikian penuturan putra Papua, Amsal Yowei. Kepada Humas, orang nomor satu di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua ini berbagi tentang tiga cara yang ia lakukan demi menjaga kerukunan umat beragama di tanah Papua.

Ya, Amsal sebagai ASN Kementerian Agama memang memiliki tugas menjadi penjaga kerukunan umat beragama di Papua. “Selama tiga puluh tahun saya menjadi pegawai Kementerian Agama, tentu saja saya menyaksikan sendiri keunikan kerukunan umat beragama yang ada di tanah Papua,” kata Amsal mengawali ceritanya, Jumat (07/09) lalu di Kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta.

Menurut Amsal, kerukunan umat beragama di tanah Papua terjalin dengan sangat baik. Hal ini menurutnya karena terdapat tiga cara yang telah dilakukan untuk menjaga kerukunan di Papua. Pertama, kerukunan umat beragama di Papua tercipta karena adanya peran serta dari pemerintah daerah setempat. “Kanwil Kemenag Papua melakukan kerjasama dengan semua unsur di Pemda Papua, untuk membangun kesadaran pentingnya kerukunan umat beragama di Papua,” papar Amsal. 

Kesadaran ini menurut Amsal menjadikan seluruh aparat pemerintahan di tanah Papua memberikan pelayanan kepada seluruh warga Papua dengan sepenuh hati, tanpa melihat latar belakang agama. “Terutama kami yang ada di Kanwil Kemenag Papua. Kami memberikan pelayanan kepada seluruh penduduk, apa pun agamanya. Memberikan pelayanan serta memenuhi kebutuhan mereka adalah kewajiban kami,” kata Amsal.

Hal kedua yang dilakukan Kakanwil yang baru dilantik Juli 2018 lalu ini adalah melakukan aktivasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Di tanah Papua, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini, seringkali melakukan dialog maupun diskusi lintas agama untuk memecahkan masalah bersama.

“Di sini, bila ada perselisihan umat, maka penyelesaiannya ada di FKUB,” jelas Amsal.

Menurut Amsal, FKUB adalah lembaga konsultatif yang bertugas untuk mencari solusi untuk setiap permasalahan kerukunan umat beragama. Dan saat ini, menurut Kakanwil yang juga seorang pendeta, FKUB  Provinsi Papua telah menjalankan tugasnya dengan cukup baik.

Ia pun mencontohkan peristiwa pembangunan menara  masjid Al-Aqsa di Sentani, Jayapura. Masalah yang terjadi pada pembangunan menara masjid tersebut dapat diselesaikan dengan baik berkat adanya komunikasi dan koordinasi yang baik para pemuka agama maupun pemerintah daerah di Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Papua.

Baca juga : Apresiasi Tim Enam, Plt Kanwil Papua Harap Semua Pihak Kedepankan Persatuan

Cara ketiga yang dilakukan Amsal Yowei dalam menjaga  kerukunan umat beragama di Papua adalah dengan mencintai pekerjaannya sebagai ASN Kemenag. “Pertama, kita sebagai ASN Kemenag harus mencintai pekerjaan kita. Ini agar kita dapat sepenuh hati melayani seluruh umat yang ada di tanah Papua,” tutur magister pendidikan agama kristen ini menambahkan.

Bukan hanya kemajemukan suku dan agama yang ada di Papua saja yang menuntut tiap ASN Kemenag di Papua harus mencintai pekerjaannya sepenuh hati. “Papua ini unik. Daerahnya tidak semuanya mudah dijangkau. Tapi tiap ASN Kemenag harus ingat, umat yang harus kita layani ada di pelosok-pelosok, bahkan di daerah yang masih sulit dijangkau dengan kendaraan. Bila tak ada rasa cinta, pasti berat untuk lakukan pelayanan. Bila sebagian umat merasa tidak dilayani, ini bahaya,” tutur Amsal yang juga pernah menjadi penyuluh Bimas Kristen ini.

Belum lagi menurut Amsal, lokasi provinsi Papua juga berbatasan dengan negara-negara tetangga. Hal ini tentu juga menjadi perhatian dari Kemenag terkait pelaksanaan kehidupan keagaaman. Tak jarang demi memantau langsung kehidupan beragama di pelosok Papua, Amsal yang sempat sembilan tahun memimpin Kankemenag Kabupaten Yapen ini terpaksa merelakan waktu kebersamaannya dengan keluarga.

“Apalagi semenjak menjadi Kakanwil, saya merasa bertanggung jawab untuk melihat langsung masyarakat saya. Terkadang ada rasa sedih, karena dalam seminggu paling hanya sehari bertemu dengan keluarga,” ujar ayah empat anak ini dengan mata berkaca-kaca.

Namun, hal ini tak menyurutkan langkah Amsal. Baginya, kehidupan harmonis masyarakat Papua ada di pundaknya. Dan tanggung jawab ini ia lakukan sepenuh hati dengan penuh cinta. “Saya yakin dan percaya bahwa Papua adalah miniatur Indonesia yang senantiasa mencanangkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan yang memang ada di atas tanah ini,” tutup Amsal.

 

 

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: