Balitbang Diklat kemenag

Terjemah Alquran Bahasa Indonesia Rilis Perdana di Era Saifuddin Zuhri

Bandung (ikhlasberamalnews) — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama terus berupaya menerbitkan terjemahan Alquran dan tafsir Alquran dengan berbagai varian. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa hal itu dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan dan pemahaman masyarakat muslim Indonesia terhadap kitab sucinya.

Upaya penerjemahan Alquran dan penerbitannya pun telah dilakukan sejak masa pemerintahan orde lama. “Peluncuran terjemahan Al-Quran dalam bahasa Indonesia oleh pemerintah dilakukan, pertama kali, pada saat Ayah saya, KH. Saifudin Zuhri, menjadi Menteri Agama, yaitu tahun 1965,” tutur Menag saat membuka Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional, di Bandung, Senin (07/07).

Dalam perkembangannya, lanjut Menag, terjemahan tersebut mengalami penyesuaian dan pengembangan, seiring perkembangan bahasa Indonesia dan realitas masyarakat. Ini sekaligus membuktikan bahwa terjemahan Alquran bukanlah Alquran.

“Alquran secara teks tidak pernah mengalami perubahan. Alquran adalah firman Allah yang sakral, sedangkan terjemahannya adalah hasil karya manusia yang bersifat profan,” tegasnya.

Setiap orang, kata Menag, bisa berbeda-beda dalam menerjemahkan Alquran. Sebab, ungkapan Alquran, seperti kata Imam Ali, hammâlun dzûwujûhin, memiliki banyak kemungkinan makna. Bahasa Alquran sangat unik, kaya kosa kata dan makna, sehingga multi interpretasi. Artinya berpeluang untuk ditafsirkan secara beragam.

“Oleh karenanya, perbedaan yang terdapat dalam terjemahan-terjemahan Alquran yang ada di Indonesia seyogyanya dipahami sebagai suatu bentuk keragaman, bukan untuk dipertentangkan,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Balitbang-Diklat Kemenag Abd Rahman Mas’ud dalam laporanya menjelaskan bahwa Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama yang diterbitkan pertama kali pada 1965 telah direvisi dan disempurnakan sebanyak 3 kali. Pertama, tahun 1989 di bawah pimpinan Ketua Lajnah Drs. H.A. Hafizh Dasuki, MA. Saat itu, dilakukan penyempurnaan terjemah dari sisi redaksional, yaitu menyesuaikan redaksi terjemah dengan perkembangan Bahasa Indonesia ketika itu. Adapun hal-hal yang substantial tidak disentuh.

“Hasil perbaikan tersebut telah dicetak pada tahun-tahun berikutnya, termasuk yang dicetak oleh pemerintah Saudi Arabia pada 1990,” jelasnya.

Kedua, tahun 1998 dilakukan kembali perbaikan Al-Qur’an dan Terjemahnya yang sifatnya menyeluruh. Pada 2002 di bawah pimpinan Ketua Lajnah Drs. H. Fadhal AR. Bafadhal, M.Sc, penyempurnaan Al-Qur’an dan Terjemahnya selesai dilakukan.

“Revisi ini membuat Al-Qur’an dan Terjemahnya lebih tipis, yaitu hanya 924 halaman (berkurang 370 halaman) dengan catatan kaki sebanyak 930 buah (berkurang 680 buah). Pada revisi tahun itu pula mukadimah Al-Qur’an dan Terjemahnya ditiadakan,” ujarnya.

Ketiga, tahun 2016-2019, kembali dilakukan kajian dan pengembangan terjemah Alquran. Kegiatan ini termasuk ke dalam program prioritas Kementerian Agama sebagaimana arahan bapak Menteri Agama. Ini sekaligus sebagai respon pemerintah  atas masukan dan saran konstruktif dari masyarakat muslim Indonesia, perkembangan dinamika bahasa Indonesia dan persoalan umat.

Revisi dan penyempurnaan terjemah Alquran yang ketiga ini, kata Abd Rahman, melibatkan para pakar Alquran, tafsir, Bahasa Arab, dan tim ahli Bahasa Indonesia. Terkait aspek kebahasaan, secara kelembagaan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an bekerja sama dengan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI.

Hasil kerja tim kemudian dibawa pada  forum Uji Shahih. Uji shahih pertama dilaksanakan pada tahun 2018 dalam forum Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-Qur’an untuk membahas 20 juz pertama (juz 1-juz 20). “Tahun ini kembali dilaksanakan ijtimak ulama Al-Qur’an dalam rangka uji shahih 10 juz terakhir (juz 21-juz 30),” tandasnya.

Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional akan berlangsung 8-10 Juli dan diikuti 110 peserta. Mereka adalah para ulama, akademisi, dan pemerhati kajian tafsir dan ilmu Al-Quran dari unsur Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dosen Perguruan Tinggi Islam, Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren, Asosiasi Ilmu Al-Qur’an, dan Pusat Studi Al-Qur’an.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: