kemenag

Selain Akademisi, Menag Harap AICIS Hadirkan Budayawan

Jakarta (Kemenag) — Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XVIII di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawei Tengah akan dilaksanakan pada 17 – 20 September dan akan berakhir pada 20 September 2018. AICIS dijadwalkan akan dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Event internasional ini menghadirkan sejumlah pembicara, akademisi, atau pemakalah-pemakalah dari dalam dan luar negeri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap, agar tidak monoton, AICIS juga menghadirkan para budayawan.

“Pada umumnya cara berfikir akademisi, mengkaitkan sebuah fenomena dengan fenomena lain, dianalisis, lalu ada tesis, anti-tesis, sintetis dan dilihat dilapangan seperti apa metodologinya,” kata Menag Lukman.

Kenapa tidak mencari metodologi lain??? tanya Menag, sembari mencontohkan, semisal untuk melihat perkembangan Islam di Asia Tenggara, seperti apa! Menag Lukman menganalogikan, selain menghadirkan para akademisi, kenapa tidak diundang budayawan?

Sebab, bagi menteri yang juga alumni Pondok Modern Gontor ini, sebagian cara berfikir di luar kaum akademisi seperti budayawan itu lebih kontemplatif, lebih berdasarkan intuisi, walau belum tentu fakta akan tetapi bisa dikaji.

“Corak Islam Asia Tenggara itu lebih akulturasi dengan wilayah setempat,” tegas Menag.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (foto: Rusydi)

Menurut Menag, AICIS juga akan lebih menarik jika dapat menghadirkan para kaum muda atau kaum millennial yang lebih mendalami atau menggandrungi pola marketing mikro. Misalnya Nabil Makarim, generasi muda yang punya Go-Jek, berinovasi bisa mengembangkan sesuatu.

“Undang public figur yang berbeda dengan akademisi memandang persoalan di masyarakat. Seperti MH Ainun Najib, juga punya kompetensi bicara Islam, KH Mustofa Bisri, walau bukan akademisi, tapi beliau adalah Kyai yang punya perspektif berbeda untuk membuka cakrawala berfikir masyarakat,” papar Menag.

Berita terkait : Menag Akan Buka AICIS XVIII Tahun 2018 di IAIN Palu

Dalam pandangan Menag Lukman, dunia akademik itu akan berkembang karena ada pro dan kontra. Ilmu itu harus dibenturkan, jika ilmu itu monoton maka akan mati. Ilmu itu memiliki tesis, anti tesis, sintesis, begitu seterusnya dan berkembang.

“Perdebatan ulama kita luar biasa, misalnya ; Ihya Ulumuddin, Ibnu Rusyd, bisa lahir setelah mendapat tantangan dari berbagai pihak. Lalu, kalau tidak ada orang-orang seperti Ibnu Rusyd tidak akan muncul mutiara-mutiara pemikiran Imam al-Ghazali. Selalu ada perdebatan, justru harus dicari dan menampilkan yang kontroversi,” papar Menag menjelaskan.

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: