kemenag

Rektor PTKN se Indonesia Ikuti ToT Tunas Integritas

Ciawi (ikhlasberamalnews) — Kementerian Agama kembali menggelar Training of Trainers (TOT) Tunas Integritas. Untuk Angkatan V ini,  ToT diikuti para Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) se Indonesia, baik UIN, IAIN, IHDN, dan IAKN.

Kegiatan yang mengusung tema “Meneguhkan Komitmen Pembangunan Budaya Integritas Kementerian Agama” ini dibuka Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan. Kegiatan ini berlangsung empat hari, 3 – 6 September 2019 di Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Sekretaris Jenderal M. Nur Kholis Setiawan mengapresiasi ToT Tunas Integritas yang diinisasi dan Biro Organisasi dan Tata Laksana sejak 2015. “Fungsi Rektor lebih memfokuskan pada tugas-tugas akademik dibanding tugas administratif. Materi dan metodogi dalam kegiatan ini sangat penting untuk kita utilisasi, dan internalisasi secara optimal di lingkungan PTKN dalam rangka pembangunan budaya integritas sebagai cara yang strategis dalam pencegahan perilaku KKN,” ujar Sekjen di Ciawi, Selasa (03/09). 

Sekjen sendiri adalah salah satu peserta TOT Tunas Integritas angkatan pertama. Saat itu, M Nur Kholis masih menjabat sebagai Direktur Pendidikan Madrasah.

Menurut Sekjen, pembangunan budaya integritas dilakukan dengan internalisasi nilai, membangun sistem dan kepemimpinan yang berintegritas pada semua tataran komponen. Pembangunan budaya integritas bukan merupakan tujuan namun merupakan cara pencapaian tujuan. Sehingga upaya pembangunan budaya integritas perlu diselaraskan dengan tujuan atau sering kita sebut dengan visi dan misi. Secara spesifik visi dan misi tersebut difokuskan lagi menjadi sebuah Visium.

Pembangunan budaya integritas pada Kementerian Agama, kata Sekjen, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana besar pembangunan Integritas Nasional. Pembangunan budaya integritas yang selaras dengan tujuan nasional, visi, misi, serta tujuan setiap Kementerian/Lembaga/Organisasi/Pemerintah Daerah (KLOP) akan memberikan makna dan kekuatan spiritual, sehingga akan memberikan daya tahan, konsistensi serta keberanian yang tinggi untuk mewujudkannya.

“Mewujudkan integritas nasional merupakan upaya positif dalam pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Apabila budaya integritas naik, maka KKN akan turun dan begitupun sebaliknya,” tuturnya.

“Power Tend To Integrity adalah upaya pengendalian strategis untuk memastikan “Super Keeper Focus” (manusia unggulan), “Key Position” (pemimpin), dan “Key Position Back Up” (calon pemimpin) sebagai investasi sumber daya strategis yang lebih cenderung kepada integritas dibanding KKN,” sambungnya. 

Tentang tantangan masa depan, dikatakan Sekjen, kegiatan ini sangat penting terutama dalam pengelolaan satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama. Salah satu satuan kerja yang menjadi mitra kerja sangat strategis adalah institusi perguruan tinggi.

M Nur Kholis meminta ada pemisahan antara kewenangan administarsi dan akademik. Seharusnya, rektor sesuai tugas dan fungsinya fokus pada domain akademik secara penuh, sedangkan administrasi termasuk LPJ dan temuan-temuan berada di bawah kewenangan dan tanggung jawab biro beserta jajarannya. Rektor yang memikirkan administasi dan akademik secara bersamaan tidak mampu secara maksimal dalam mewujudkan kualitas akademik secara baik. Oleh karena itu, Sekretariat Jenderal akan melakukan pembenahan jajaran eselon 3 yang berada pada jajaran Biro yang dipersiapkan untuk mengelola adminstrasi secara baik dan dapat dipertanggung jawabkan. 

“Ada beberapa poin terkait kepemimpinan, antara lain  (1) pimpinan harus menguasai substansi, masalah, dan menjalankan amanah, (2) mengetahui program perioritas, mandatori, dan rutin, serta memiliki pengetahuan memadai, (3) mengetahui payung hukum/regulasi dan selalu diskusi/ koordinasi pada seluruh unsur pimpinan di Kementerian Agama RI,” tandas Sekjen.

Mewakili Karo Ortala,  Kepala Bagian Evaluasi Kinerja Organisasi dan Fasilitasi Penyelesaian Hasil Pengawasan, Achmad Gufron menyampaikan bahwa peserta TOT mendapat materi tentang proses komprehensif yang berupaya menempatkan keutuhan manusia sebagai faktor kunci perubahan, utamanya bagi para pemegang kewenangan.

Ketua Tim Fasilitator Asep Choirullah., mengungkapkan, dalam membentuk integritas organisasi harus dilihat juga pengaruh dari integritas personal/individu satu sama lain. Organisasi dikatakan berintegritas, jika institusi tersebut melakukan tindakan yang konsisten sesuai dengan nilai, tujuan dan tugas yang diemban. Integritas organisasi akan terbentuk jika dibangun oleh individu yang memiliki integritas kadar tinggi yang disebut sebagai Tunas Integritas, Istilah Tunas yang dimaksud adalah Tujuan Nasional dalam mewujudkan semangat integritas pada masing-masing lembaga.

Dengan kadar integritas individu yang tinggi dari para tunas integritas, maka akan menjamin terwujudnya integritas organisasi (pendekatan inside out). Integritas organisasi yang sudah terbangun akan membuat 80% anggota organisasi lain akan terkondisikan berintegritas (pendekatan outside in). (Gufi)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: