kemenag Opini

R.A. Kartini Dari Kaca Mata Santri

R.A. Kartini menjadi murid Kiyai Sholeh Darat? Itu sangat mungkin sebab keduanya kelahiran Jepara, Jawa Tengah. R.A. Kartini lahir di Kecamatan Mayong. Kiai Sholeh Darat lahir di Kecamatan Pecangaan.

Kemungkinan besarnya, R.A. Kartini belajar langsung kepada Kiyai Sholeh Darat, di saat-saat sang maha guru ulama Nusantara itu pulang ke kampung halamannya. Kiyai Sholeh Darat menetap di Mangkang Semarang, tetapi beliau juga membuka pengajian di Pecangaan, Jepara.

Berikut ini adalah petikan-petikan kalimat R.A. Kartini yang menandakan dirinya seorang santri yang telah belajar kedalaman agama, dan bukan sebatas kulitnya. Disebut demikian, umumnya anak perempuan di Jawa, termasuk anak kiai, sampai tahun 1930-an hanya belajar Alquran dan dasar-dasar agama Islam.

Surat Kartini kepada Nyonya van Kol, 21 Juli 1902: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai”.

Surat kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902: “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”.

Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 25 Agustus 1903: “Ya Allah, alangkah malangnya; saya akan sampai disana pada waktu Puasa-Lebaran-Tahun Baru, di saat-saat keramaian yang biasa terjadi setiap tahun sedang memuncak. Sudah saya katakan, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya ijinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih saying dalam hati sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah!”

Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1903: “Tidak, ia tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai jimat, tidak juga mempunyai senjata sakti. Kalaupun rumahnya tidak ikut terbakar itu dikarenakan dia mempunyai Allah saja”

Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Petikan-petikan kalimat surat dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu isi pesannya sangat tinggi untuk ukuran perempuan muda Islam di zaman itu. Awal tahun 1900-an di Jawa belum ada pesantren perempuan dan baru mulai dirintis di Pesantren Denanyar Jombang tahun 1930-an.

Pengertiannya, kalau umumnya perempuan muda hanya belajar Alquran dan ilmu-ilmu Islam dasar, sementara R.A. Kartini sudah punya pandangan agama sedemikian rupa, maka berarti R.A. Kartini benar-benar santri.

M. Ishom el-Saha (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

smallseotools.com

Follow me on Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: