kemenag

Perempuan Berdaya, Keluarga Sejahtera

Na tam mata pita kayira, anne vapi ca nataka. Sammapanihitam cittam, seyyaso nam tato kare. Bukan seorang ibu, ayah, atau pun sanak keluarga lain yang dapat melakukan; melainkan pikiran sendiri yang diarahkan dengan baik yang akan dapat mengangkat derajat seseorang.(Dhammapada, Syair 43)

Dalam kehidupan modern saat ini, peran perempuan semakin meningkat. Tidak sedikit perempuan yang telah mendapat peran penting di masyarakat. Sudah banyak perempuan yang sukses tampil ke depan dalam berbagai profesi, bekerja membantu perekonomian keluarga.

Perempuan inilah yang kemudian dikenal dengan Wanita Karir. Sebagai wanita karir sudah tentu akan berdampak dalam suasana kehidupan keluarganya. Karena itu sangat penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang baik terhadap peran perempuan dalam keluarga buddhis.

Keluarga buddhis yang diharapkan adalah keluarga Hitta Sukhaya, yakni kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Suatu bentuk kehidupan yang menjadi dambaan setiap orang yang berkeluarga, di mana suami memiliki perilaku seperti dewa dan istri memiliki perilaku seperti dewi.

Karenanya, untuk membentuk keluarga seperti itu, disyaratkan adanya: keyakinan yang sama, moralitas yang sama, kemurahan hati yang sama, dan kebijaksanaan yang sama. Dapat dikatakan bahwa dalam sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera, senantiasa dipenuhi dengan ketenangan, ketenteraman, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta terpeliharanya keutuhan dan kebersamaan dalam keluarga.

Terkait dengan peran perempuan sebagai wanita karir dalam membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera, maka setidaknya setiap perempuan dapat menunaikan peran-peran yang melekat dalam dirinya dengan baik. Adapun peran-peran yang harus dijalankan, seperti: peran sebagai istri. Ini sebagaimana tertuang di dalam Sigalovada Sutta. Yakni, mencintai suaminya, pandai menjalankan kewajibannya, bersikap ramah-tamah terhadap sanak keluarga, setia dan menjaga harta bendanya dengan baik.

Demikian pula perannya sebagai ibu yang senantiasa mencurahkan kasih sayangnya dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Berkaca pada peran perempuan pada masa kehidupan Buddha Gotama, sudah banyak tokoh wanita yang memiliki peran dan pengaruh. Salah satu contoh adalah Visakha. Visakha adalah puteri dari saudagar yang sangat kaya raya di wilayah Kerajaan Bimbisara. Beliau mampu menyadarkan ayah mertuanya yang sangat kikir sehingga mendapat gelar Migaramatta (Ibu Migara).

Kisah tersebut membuktikan bahwa wanita yang memiliki kekuatan dalam hal prinsip hidup dan mampu memberikan keteladanan, maka akan memberikan perubahan ke hal-hal yang baik, bukan hanya untuk keluarga tetapi akan berdampak pada masyarakat sekitar. Dampak yang sangat nyata dari kekuatan kebaikan dari seorang wanita adalah mampu memberikan kesejahteraan baik lahir maupun batin bagi keluarga.

Demikian pula dalam hal kehidupan spiritual, agama Buddha menempatkan perempuan dalam kedudukan yang setara. Perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk membebaskan diri dari penderitaan hingga akhirnya mencapai kesucian.

Pada masa Buddha, banyak perempuan yang menjadi siswi utama Buddha, salah satunya adalah Yang Ariya Maha Pajapati Gotami Theri. Yang Ariya Maha Pajapati Gotami Theri merupakan Bhikkhuni pertama yang ditahbiskan oleh Buddha dan diikuti oleh 500 orang perempuan lainnya sehingga terbentuklah Sangha Bhikkhuni yang pertama.

Dalam kisahnya, Guru Agung Buddha menyampaikan kepada Ananda bahwa perempuan juga memiliki kemampuan yang sama untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian ketika perempuan meninggalkan kehidupan duniawi dan menempuh kehidupan suci. Lebih lanjut, Guru Agung Buddha menjelaskan bahwa hina atau mulia seseorang adalah karena perbuatannya, bukan karena jenis kelamin atau kastanya.

Perhatian atas peran dan kedudukan perempuan dalam agama Buddha menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Para perempuan dapat melakukan aktivitas untuk menopang perekonomian keluarga dengan cara-cara yang terhormat dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun yang perlu untuk diingat adalah senantiasa memegang teguh pada norma dan perannya sebagai istri dan ibu dalam keluarga.

Selamat memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2020. Perempuan Berdaya, Keluarga Sejahtera.

Semoga para ibu senantiasa berlimpah berkah kekuatan, kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: