kemenag

Pengajian DWP Kemenag Kupas Peran dan Potensi Perempuan Dalam Al-Quran

Jakarta (ikhlasberamalnews) — Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi memberi siraman rohani lewat tausiyahnya di gelaran pengajian rutin bulanan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag RI.

Pengajian rutin bulanan DWP yang dihadiri pengurus DWP Kemenag Pusat, DWP Kemenag Jawa Barat, Banten dan Jakarta Selatan ini mengangkat tema Perempuan Dalam Prespektif Al Quran. Pengajian ini digelar di kediaman Ruman Dinas Menteri Agama, Komplek Widya Chandra, Jakarta Selatan, Rabu (13/02).

Dalam tausiyahnya, Muchlis M Hanafi membahas kilas balik sejarah perempuan yang memiliki persamaan dengan kaum laki-laki, baik dalam Al-Quran maupun hadist.

Menurutnya, bicara perempuan dari perspektif Al Quran tidak akan ada masalah. Namun berbeda bila melihatnya dari catatan sejarah di mana perempuan memiliki sejarah kelam. Pada zaman jahiliah sebelum Islam, perempuan yang ditinggal mati suami tidak mendapat warisan melainkan menjadi warisan.

Ia menjelaskan bahwa kedudukan perempuan dengan laki-laki itu sama. Ada pendapat ulama tafsir bahwa perempuan itu berasal dari tulang rusuk laki-laki. Namun tidak sedikit pula ulama tafsir yang menyatakan laki-laki dan perempuan itu berasal dari jenis yang sama yaitu tanah.

“Tidak ada bedanya baik itu asal mula kejadian dan penciptaan sama. Lalu kalau itu sama kenapa harus dibeda-bedakan, maka potensinya berarti sama,” ujar Muchlis.

Kedudukan perempuan itu adalah pasangan. Antara perempuan dan laki-laki itu hubungannya tidak hanya sekadar hubungan suami istri, melainkan hubungan keberpasangan layaknya sepasang sepatu. Modelnya sama namun bentuk berbeda. Sepatu kiri lencong ke kanan dan sebaliknya sepatu kanan lencong ke kiri.

“Kemudian sepatu kiri dan kanan kalau melangkah secara bersama-sama atau bergantian? Ini adalah konsep berpasangan yang diperkenalkan Islam. Dan ketika dia berfungsi dan berjalan, karena dia berbeda, maka ketika kaki kanan ada di depan maka kaki kiri di belakang begitu juga sebaliknya. Kalau dua-duanya maju melangkah, maka akan jatuh terjerembab,” ujarnya.

Dalam sebuah hadist disebutkan perempuan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari laki laki. Kalau itu semua sama, asal kejadian sama, konsepnya keberpasangan, maka lalu kemudian kenapa harus berbeda. Perbedaan itu hanya saja lebih kepada bentuknya.

“Namun perbedaan itu bukan untuk dibeda-bedakan atau diskriminasi. Perbedaan itu untuk dikomunikasikan, saling berkenalan, saling melengkapi, saling menyempurnakan, saling berbagi dan saling lainnya,” tutur Muchlis.

“Di dalam Al Quran kita banyak menemukan potensi-potensi perempuan yang sangat luar biasa. Bukan hanya dalam masalah spritualitas dan keimanan saja, melaikan juga soal keduniaan. Banyak perempuan yang lebih unggul dari laki-laki, mari kita lihat profile di Al-Quran,” sambungnya.

Dari spritualitas keimanan ada beberapa profile yang disebut dalam Al Quran yang sangat positif, bahkan mereka itulah orang-orang dibalik tokoh tokoh besar. Seperti dalam surah Ali Imran. Di situ dikisahkan bagaimana Allah SWT memilih keluarga Imran yang lebih menunjukan peran seoarang perempuan atau istri.

Ketika berdoa ia memohon kepada Allah SWT agar anak yang ada dalam rahimnya itu didedikasikan khusus untuk pelayan di rumah ibadah. Makanya istri Imran ini sedikit menyesal ketika melahirkan sosok perempuan karena dia menginginkan anak laki-laki yang dianggapnya memiliki pengabdiannya lebih kuat.

Tapi Allah kemudian menjawab tidak dan yang dikabulkan itu adalah Maryam, seorang perempuan suci yang dipilih oleh Allah yang sejak kecil pengasuhannya sempat diserahkan kepada seorang laki-laki. Namun Zakaria pun tidak berdaya ketika mengasuh anak bernama Maryam. Karena setiap kali Zakaria masuk ke ruangan Maryam, selalu banyak makanan dan buahan-buahan. Ini sesuatu yang tidak lazim dan hanya diperoleh oleh orang yang memiliki spritulitas yang tinggi seperti Maryam.

“Dari Maryam inilah lahir Isa. Jadi kebesaran dan ketokohan Nabi Isa yang dimuliakan oleh umat Islam dan Kristiani tidak lepas dari peran dua perempuan yaitu ibunya Maryam dan Maryam. Maka benar kalau ada ungkapan dibalik suksesnya suami ada perempuan hebat,” tandas Muchlis Hanafi.

Penasihat DWP Kemenag RI Trisna Willy Lukman Hakim mengharapkan tausiyah yang disampaikan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi bisa ditularkan kepada pengurus DWP yang berhalangan hadir dan keluarga terdekat.

“Semoga langkah ibu-ibu ke sini bermanfaat dan membawa mudharot bagi kita semua,” ujar Trisna Willy.

Selain menghadirkan Muchlis M Hanafi untuk memberikan tausiyah, pengajian rutin DWP yang kali ini Badan Litbang dan Diklat Kemenag sebagai tuan rumah juga memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan penyakit mulut dari team Fakultas Kedokteran UI.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

smallseotools.com

Follow me on Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: