kemenag

Muktamar Rifa'iyah IX, Plt Sekjen Kemenag Ajak Teladani Keteguhan KH Ahmad Rifa'i

Wonosobo (Kemenag) — Pengurus Pusat Rifa’iyah menggelar muktamar yang ke IX. Muktamar dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.  

Pembukaan Muktamar berlangsung di Sasana Adipuro Pendopo Kabupaten Wonosobo. Muktamar yang berlangsung 24-26 September 2018 ini mengangkat tema “Islam Lugas dan Bermartabat”.

Plt Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan didaulat memberikan sambutan mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Dia mengajak ribuan muktamirin yang hadir untuk meneladani perjuangan KH Ahmad Rifa’i. Menurutnya, sebagai pejuang, ketokohan KH Ahmad Rifai’i  penting disuarakan agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri karena hanyut oleh gelombang arus globalisasi. 

“Karya-karya beliau yang ditulis dengan bahasa Jawa Melayu bagian dari kekayaan naskah nusantara yang harus terus dipelajari dan diamalkan. Kitab beliau yang paling terkenal adalah Tarojummah,” terang M Nur Kholis di Wonosobo, Selasa (25/09).

Menurut M Nur Kholis, sebagai sosok kyai, A Rifai dikenal tegar dalam segala kondisi, cobaan, serta fitnah. “Kaum Rifaiyah semestinya meneladani ketegaran, ketegasan, dan keteguhan dalam perjuangan supaya mampu melahirkan santri yang handal,” pesannya.

Irjen Kemenag ini menggambarkan lalu sosok Rifaiyyah dengan salah satu bait syair Nadzam Alfiah. Menurutnya Rifa’iyyah itu bisa dikatakan, “Lir-raf’i wan-nashbi wa jarri na shalah # ta’rif bina fainnaa nilnal minah”.

“Dalam kondisi apapun, baik Rafa’, Nasab, bahkan Jer sekalipun, kalimat Na tetaplah Na (tidak berubah cara bacanya). Maka,  kenalilah diri Anda, niscaya Anda akan menemukan keberuntungan,” jelasnya. 

Pembukaan muktamar diawali dengan pembacaan shalawat dan lantunan syair manaqib KH Ahmad Rifai.  Peserta muktamar diajak mengingat sejarah dan keteladanan KH. AHmad Rifai sebagai pejuang agama melalui senandung syair.

Ketua Umum Rifa’iyyah,  Muhammad Muzarei mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tokoh dan peserta muktamar. Menurutnya, tokoh Rifaiiyyah selama ini secara realitas tidak diakui keberadaannya, bahkan “dipotong” dari sejarah.

Namun,  Rifaiyyah bertahan dan bahkan berkembang melalui karya KH Ahmad Rifa’i. Tidak kurang 67  judul kitab yang ditulis dan yang paling terkenal adalah Kitab Tarojumah. Selanjutnya,  pemikiran KH Ahmad Rifa’i ini terus menyebar melalui karya tulisan yang ditulis para santri.

“Alhamdulillah, melalui kitab karangan beliau dan karya tulis para santrinya,  Rifai’iyyah terus berkembang. Sampai  saat ini,  Rifaiyyah mempunyai 20 lembaga pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia,” tuturnya. 

Muzarie berharap organisasi dan pesantren yang dikembangkan Rifaiyyah ke depan lebih mendapatkan perhatian dari pemerintah. (Ali) 

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: