kemenag

Menanam Semangat dan Meneladani Zhisheng Kongzi

Zhisheng Kongzi bersabda, “Aku tidak menggerutu kepada Tuhan tidak pula menyesali manusia. Aku hanya belajar dari rendah menuju tinggi, Tuhan- lah mengerti akan diriku.” (SS XIV:35)

Hidup dihadapkan pada kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Ada kalanya lancar mudah dan penuh semangat dalam mengadapinya, namun ada pula sebaliknya. Walau sudah berusaha hati-hati dan teliti, ternyata yang terjadi tak sesuai dengan harapan.

Ketika badan sehat, mood-nya bagus, mungkin bisa menghadapi apapun dengan kesabaran ketulusan dan kepasrahan akan hasilnya. Sayangnya kita manusia punya banyak keterbatasan. Keterbatasan kemampuan berfikir, kejernihan hati dan juga kesehatan, sehingga kenyataan hidup sering dianggap menjadi beban yang sulit diurai.

Maka, kita butuh tempat untuk mengurainya, untuk mendapatkan tambahan nutrisi jiwa, sehingga dapat menjadikan tenang, mantap, dan semangat dalam mengahadapi realita kehidupan. Lantas, di mana dan kepada siapa kita bisa mengurai? 

Hal ini bukan persoalan yang mudah. Teman berbahagia itu banyak, mudah didapat, namun teman untuk berbagi problematik kehidupan, bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami! Masih sering kita jumpai kebiasaan bergunjing, berkomplot dari pada berkumpul saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain, saling asah asih dan asuh.

Berkomplot itu konotasinya negatif, karena punya motif tertentu bisa untuk pribadi bisa juga untuk kelompoknya. Berkomplot untuk mencari pembenaran, berkomplot untuk menjatuhkan, berkomplot untuk memarjinalkan dengan membangun narasi terus-menerus demi tercapainya maksud tertentu. Dalam kehidupan ini, masih sering kita jumpai juga pribadi – pribadi yang  belum siap  belajar memahami dari berbagai sisi supaya tidak mudah menghakimi. 

Apakah karena sudah terbiasa dengan ‘melihat siapa orangnya bukan kata- katanya’, sehingga sulit untuk mengubah kebiasaan sekalipun membawa akibat yang kurang atau tidak baik?

‘Seorang Junzi mau berlomba tetapi tidak mau berebut. Mau berkumpul, tetapi tidak mau berkomplot.’ ( LY,/SS XV:22)

‘Seorang Junzi tidak memuji seseorang karena kata-katanya dan tidak menyia-nyiakan kata- kata karena orangnya.’ ( LY/SS XV: 23)

Kehidupan adalah sarana belajar mengambil hikmah apa yang dilihat, didengar, diucapkan, dilakukan dan dirasakan. Hal ini akan mengantarkan kita kepada pribadi yang tercerahkan. Jagalah pikiran ucapan dan prilaku agar selaras dengan hukum dan cahaya kebajikan Tuhan.

Sehingga, hidup dan kehidupan ini menjadi berkah untuk diri, keluarga, sesame, dan alam aemesta. Tuhan berfirman, ‘Aku berkahi Kebajikan yang tiada suara dan rupa…’ ( ZY/TY XXXII:6)

Sebagaimana salam dalam Iman agama Khonhucu  ‘Hanya dalam Kebajikan Tuhan berkenan’ dan ‘Sungguh milikilah yang satu, yaitu Kebajikan’ ( Su King)

Berbagilah dan bersandarlah  kepada Huang Tian. Hal ini paling utama dan mendasari hidup dan kehidupan. Hidup di dunia ini ‘dihidupkan dan dihidupi’  oleh Huang Tian Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta. Oleh-Nya kita ada dan kepada-Nya kita akan kembali. Hidup ini bukan kebetulan melainkan mengemban tugas dari Huang Tian.

Jadikan kehidupan ini sebuah proses mengedukasi diri sehingga dari waktu ke waktu akan bertambah bijak dan bajik. Kesadaran ini harus terus menerus dijaga, dirawat dan, dikembangkan. Selama masih diberi kesempatan untuk hidup, isilah dan maknailah hidup ini dengan baik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing dimanapun kita berada. Yakinlah Huang Tian berkenan.

‘Pagi mendengar Akan Jalan Suci, sore hari matipun ikhlas.’ ‘Jalan Suci itu tidak jauh dari manusia. Bila orang memaksudkan Jalan Suci itu ialah hal yang menjauhi manusia, itu bukanlah Jalan Suci.” (ZY/TY XII:1)

Bersyukur kita terlahir menjadi manusia dan manusia telah dibekali Watak Sejati dengan benih-benih kebajikan yang menjadi hakikat kemanusiaannya, sebagai sumber nilai-nilai luhur rohani, sumber kekuatan moral yang harus dipupuk dan dibina secara terus-menerus sehingga tumbuh kembang dan berbuah dengan baik.

‘Yang di dalam Watak Sejati seorang Junzi ialah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan. Inilah yang berakar dalam hati, tumbuh dan meraga membawa cahaya mulia pada wajah, memenuhi punggung sampai ke empat anggota badan. Keempat anggota badan dengan tanpa kata-kata dapat mengerti sendiri.’ ( MZ/BC VIIA:21)

Nilai- nilai luhur ada dan tumbuh berkembang di dalam hati yang paling dalam. Hati di sini yang dimaksud  bukan hati segumpal daging melainkan “Rohso Jati” maka di katakan Watak Sejati, Hakikat Kemanusiaan.

‘Yang benar- benar dapat menyelami hati akan mengenal Watak Sejatinya; yang mengenal Watak Sejatinya akan mengenal Tian YME.’ (MZ/BC VIIA:1.1)

Maka keteguhan hati Zhisheng Kongzi akan Kebesaran Huang Tian atas hidup dan kehidupan wajib diteladani, tidak menggerutu kepada Tuhan, tidak menyesali manusia. Belajar dari rendah menuju tinggi menempuh Jalan Suci, pasti akan beroleh berkah-NYA. ‘Tuhan pasti mengerti diriku’, tanamlah di hati semangat tersebut dan terus-menerus rawatlah agar tumbuh kembang menjadi kekuatan dalam menunaikan kewajiban hidup dan akan beroleh ketenangan, ketentraman, serta kebahagiaan.

Sebagai penutup mengutip kata bijak yang sering kita jumpai di layar HP kita. ‘Jangan pernah menyesal mengenal seseorang. Orang baik, akan memberikan kebahagiaan. Orang yang tidak baik akan memberikan pengalaman. Orang yang jahat akan memberikan pelajaran dan orang yang sangat baik akan memberikan kenangan indah.” (Kebajikan)

Salam Kebajikan, Wei De Dong Tian.

Xs Endang Titis Bodro Triwarsi (Rohaniwan Khonghucu).
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: