kemenag

Kemenag: Tantangan Madrasah, Moderasi dan Revolusi Industri 4.0

Bengkulu (Kemenag) — Salah satu rangkaian kegiatan Kompetisi Sains Madrasah 2018 yang digelar di Bengkulu 24-28 September 2018 adalah Rembug Nasional Bidang Pendidikan Madrasah.

Kegiatan Rembug Nasional Pendidikan Madrasah dihadiri para Kepala Bidang Pendidikan Madrasah dan kepala seksi dari setiap Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh provinsi di Indonesia, serta Kepala Kankemenag Kabupaten di Bengkulu.

Dalam Rembug Nasional ini, Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, MA. menjadi salah satu narasumber.

Dalam sambutan dan arahannya, M. Nur Kholis Setiawan menyampaikan paling tidak ada dua tantangan berat pendidikan madrasah. Pertama, tantangan dalam menghadapi di arus perubahan teknologi dan industri 4.0 dan kedua tantangan tentang moderasi beragama.

“Perubahan teknologi industri yang tak terbendung dari 1.0 di mana tenaga digantikan dengan mesin, 2.0 mesin dilengkapi sistem komputer, 3.0 munculnya internet hingga era industri 4.0 yang sangat digital dan artificial intelligent, meniscayakan dunia pendidikan untuk menyesuaikan dengan zamannya, ” tutur Plt. Sekjen yang pernah kuliah di Belanda dan Jerman tersebut.

Menurut Nur Kholis, bisa jadi 10-20 tahun ke depan siswa-siswi madrasah tidak memerlukan ruang kelas lagi. Sebab dunia mereka sudah melampaui batas ruang dan waktu. Hanya dengan duduk dan tiduran, anak-anak sekarang sudah bisa berselancar kemana-mana. Hanya dengan tiduran anak-anak sekarang bisa memesan apa saja yang diinginkan.
“Internet of things akan menjadi segala-galanya. Aplikasi-aplikasi yang bersifat artificial intelligent yang menyerupai otak manusia diciptakan untuk memudahkan kerja-kerja manusia. Dalam industri 4.0 membicarakan ruang dan waktu sudah tidak lagi relevan,” imbuhnya.

Tantangan kedua yang lebih berat dari tantangan pertama adalah persoalan mainstreaming moderasi beragama. Agama tidak boleh dipahami secara ekstrim, baik ekstrem kanan yang literalis maupun ektrem kiri yang liberal.

“Negara ini dibangun di atas keberagaman baik suku, ras, budaya maupun agama. Maka mainstreaming moderasi agama menjadi keniscayaan. Jika negara ini dikuasai oleh salah satu kelompok ekstrem tersebut, niscaya tatanan negara akan hancur,” tegas Nur Kholis Setiawan yang disambut dengan tepuk tangan hadirin.

Oleh sebab itu, Nur Kholis mengharapkan agar pendidikan madrasah mampu menjawab dua tantangan tersebut melalui tiga unsur penting, yakni aktor (para guru, tenaga kependidikan, stakeholder), lingkungan dan fasilitas.

“Guru, tenaga kependidikan dan pemegang kebijakan pendidikan madrasah harus update pengetahuan teknologi dan juga harus beres paham keagamaan dan wawasan kebangsaannya,” ujarnya.

Lingkungan dan fasilitas harus dibuat sedemikian kondusif agar peserta didik bisa belajar secara sehat. [hamam] 

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: