kemenag

Jadilah Pelita Bagi Diri Sendiri

Atta hi attano natho, atta hi attano gati. Tasma sannamayattanam, assam bhadram va vanijo. Diri sendiri adalah tuan bagi diri sendiri. Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri. Oleh karena itu, kendalikan dirimu sendiri, seperti seseorang mengendalikan kuda tungganganya. (Dhammapada, Syair 380)

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sudah sampai saatnya kita meninggalkan tahun 2020 untuk memasuki tahun 2021. Perjalanan waktu terus berganti tanpa kita dapat menghentikan. Proses perubahan inilah yang selalu terjadi sebagaimana prinsip ketidakkekalan (anicca) yang diajarkan Guru Agung Buddha. 

Pesan Guru Agung Buddha dalam Mahaparinibbana Sutta menyatakan: Segala hal yang terkondisi tidaklah abadi, Berjuanglah dengan tekun” (Vaya Dhamma Sankhara, Appamadena Sampadetha).

Selama tahun 2020, kita menjalankan kehidupan dengan bayang-bayang Pandemi Covid-19. Batin kita menjadi tidak tenang, rasa was-was senantiasa menghiasi kehidupan. Tidak memandang jenis kelamin, ras, suku, agama, derajat sosial, pangkat dan jabatannya, Virus Corona menjangkiti umat manusia. Kita hidup dalam suasana kenormalan baru, melakukan sesuatu yang tidak biasa hingga menjadi kebiasaan baru. Memakai masker yang menutup lubang hidung dan mulut setiap waktu, menjaga jarak selama bertemu dengan sesama umat manusia, sering mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, dan menghindari kerumunan seperti tempat perbelanjaan dan hiburan. Semua kebiasaan itu telah mengubah perilaku kita. Itulah perubahan, itulah ketidakkekalan.

Meskipun kita hidup dalam ketidakkekalan, bukanlah kemudian kita tidak melakukan sesuatu. Selama menjalani kehidupan baru tersebut, tentu sudah banyak perbuatan yang telah dilakukan baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan badan jasmani. Semua perbuatan itu dilakukan atas dasar kesadaran untuk mendapatkan manfaat baik untuk diri sendiri maupun bagi sesama. Kita bertekad untuk tidak meninggalkan kesan yang tidak baik. Lebih dari itu juga, kita bertekad untuk tidak merugikan atau menjadikan makhluk lain menderita. Semua yang kita lakukan ditujukan untuk membawa kebahagiaan.

Sebagai umat Buddha, kita menyadari dan selalu bersikap waspada dalam bertindak karena kita meyakini akan kebenaran Hukum Karma. Sesuai benih yang ditabur begitulah buah yang akan dituai. Manakala kita berbuat kebajikan, maka kebahagiaan pulalah yang akan dituai. Sebaliknya jika yang dilakukan adalah ketidakbajikan maka penderitaan yang akan menyertainya.

Seiring dengan ajaran kebajikan itu, maka memasuki tahun 2021 marilah kita mempersiapkan diri dengan baik. Patut disadari bahwa tantangan kehidupan sebagai dampak pandemi Covid-19 semakin berat. Kesiapan mental dalam memasuki tatanan kehidupan baru perlu lebih diperkuat dengan landasan spiritual dan moralitas keagamaan. Kembangkanlah praktik cinta kasih, kasih sayang, simpati, dan empati kepada semua makhluk. Guru Agung Buddha mengajarkan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Setiap individu harus melakukan usaha yang diperlukan dalam memperjuangkan pembebasannya sendiri, sebagaimana pesan beliau kepada Ananda: “Jadilah pelita bagi dirimu sendiri, jadilah pelindung bagi dirimu sendiri, janganlah mencari pelindung lain. Jadikanlah kebenaran Dhamma sebagai pelita dan dan pelindungmu”.

Marilah kita tatap masa depan yang penuh tantangan. Kokohkanlah keyakinan bahwa Buddha Dharma akan menuntun kita, memberikan cahaya dalam langkah panjang dalam kehidupan ini. Dengan hukum ketidakkekalan maka semua persoalan dan tantangan kehidupan yang menghantui pasti akan berlalu.

Selamat Tahun Baru 2021. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: