Itjen

Pesan Irjen ke Auditor: Tawaddu, Arif, dan Jangan Takabur

Bogor (ikhlasberamalnews.com) — Lokakarya Pengawasan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama ditutup Inspektur Jenderal Kementerian Agama, M. Nur Kholis Setiawan. Kepada jajarannya, M Nur Kholis berpesan tentang tiga hal dalam pelaksanaan tugas sebagai auditor.

Pertama, dalam bekerja, awali dengan sikap tawaddu dan pahami strategi luhur dakwah Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Irjen bercerita kalau Sunan Kalijaga mengajarkan substansi keislaman kepada masyarakat yang sebelumnya sudah mengenal tradisi spiritualitas ajaran kesempurnaan diri. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menyusun syair lagu macapat (dikenal dalam istilah jawa Sangkan Paraning Dumadi). Syair tersebut dirangkum menjadi 11 tembang, yaitu: Maskumambang, Mijil, Durma sampai dengan tembang Pucung.

Dalam konteks itu, M Nur Kholis mengibaratkan kehidupan pegawai Itjen sudah memasuki fase Durma, yaitu: fase pengabdian setelah menjalani pahit getirnya kehidupan (dhandhang ghulo). “Ini merupakan tahapan berbakti, mengabdikan diri, mengoptimalkan peran, melaksanakan tugas fungsi. Fase ini biasanya agak lama sampai waktu kita memasuki pensiun (Pangkur),” ujarnya di Bogor, Rabu (10/01). 

Memulai fase Durma (pengabdian) di tahun ini, pesan Nur Kholis, aparuatur Irjen dituntut bersikap tawaddu’. Sikap ini ibarat harakat kasrah pada kata “inna” yang terletak di awal kalimat. Harakat itu tidak boleh dibaca fathah menjadi “anna”. Hal ini seperti disebutkan dalam Alfiyah ibn Malik, faksir fil-ibtida wa-fi bad’i shilah-wa-haitsu inna liyaminin mukmilah

“Kasrah dapat dimaknai dengan sikap tawaddu karena berada di awal atau depan sebuah kalimat, ungkapan serta aktifitas,” ujarnya. 

Berkaitan itu, fungsi Itjen yang berada di depan menjadi desainer kebijakan, seharusnya wajib bersikap kasrah atau tawaddu. Karena dengan tawaddu, Itjen justru lebih berwibawa. Sebaliknya, bila takabbur, justru makin dibenci. “Dengan tawaddu, kita akan selalu dirindukan oleh satker keluarga besar kita untuk menjadi pendamping, pemandu dan pengantisipasi,” pesannya. 

Nur Kholis menjelaskan, hasil lokakarya ini sebagai piranti yang akan memberikan daya dorong kuat untuk Kementerian Agama menjadi lebih baik di masa mendatang. Namun, hal ini amat ditentukan oleh aktornya, aparatur pengawas internal. Lokwas sebagai wasilah, guidance, piranti/alat, bila aktor utamanya belum tawaddu maka akan sulit mencapai target, sebagus apapun alatnya. 

“Tawaddu ini menjadi modal dasar dalam menjalankan hasil Lokwas ini. Dengan niat ibadah, maka semuanya akan menjadi ringan. Sedinamis tantangan dan sesulit apapun permasalahannya, insya Allah menjadi mudah diselesaikan dengan kepala dingin,” terangnya.

Pesan kedua, menurut Nur Kholis, auditor harus arif dalam bekerja. Artinya, auditor harus bisa menggabungkan antara dimensi kebenaran dengan dimensi kebaikan. 

Menurut Nur Kholis pada dasarnya manusia sangat dinamis, dan tidak dapat menghindari kekhilafan, termasuk para auditi. Sehingga, kita dalam melaksanakan tugas membutuhkan kearifan. “Sebagaimana filosofi permainan gamelan, ‘nang-ning-nang-gung’ yang diciptakan oleh Sunan Bonang, untuk mengiring syair Macapat gubahan Sunan Kalijaga. Itu menggambarkan auditor sebagai manusia biasa, pun tidak dapat menghindar dari kesalahan. Namun, ujungnya semua kembali ke Maha Agung,” jelas Nur Kholis. 

Pesan ketiga kepada seluruh pegawai Itjen agar jangan lekas takabur dan lupa diri dengan pujian, jangan down atau galau ketika dicela orang. “Adanya penghargaan LHKPN dan UPG dari KPK yang baru-baru ini kita peroleh, jangan membuat kita takabur atau lupa diri. KPK tentu punya data analisis dalam menilai  itu, tapi  basisnya adalah prasangka baik. Karena data yang KPK miliki adalah yang dilaporkan dan yang diketahui oleh KPK, tapi data-data kelemahan kita yang tidak diketahui KPK dan tidak dilaporkan, luput dari penilaian tersebut,” jelas Irjen. 

Menjelang akhir pidatonya, Nur Kholis mengutip nasihat dari kitab al-Hikam karya Ibnu Atha’illah Assakandary terkait kiat menghadapi pujian dan celaan. “Jadilah kita pribadi yang mampu mencela diri sendiri. Sebab, kitalah yang paling tahu siapa sejatinya diri kita, “al-nasu yamdahuunaka lima yadzunnunahu fik, fakun anta dzaamman linafsika lima ta’lamuhu minha,”  wejang Nur Kholis. (asnawi)

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: