kemenag

Ini Harapan Menag dari Pertemuan Ribuan Sarjana Muslim di AICIS

Palu (Kemenag) — Ribuan cendekiawan dan sarjana muslim dari Indonesia maupun mancanegara berkumpul di Palu, Sulawesi Tengah. Mereka mengikuti The 18th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang berlangsung hari ini hingga Kamis mendatang.

Menag Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan pertemuan tersebut dapat menghasilkan tiga hal. “Pertama, saya berharap pertemuan AICIS XVIII ini dapat memberikan penguatan program di lingkungan Kemenag,” kata Menag dalam sambutannya, di Palu, Selasa (18/09).

Kehadiran para civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), mulai dari dosen, peneliti hingga rektor, diharapkan Menag dapat memberikan solusi terhadap pengembangan program di lingkungan Kemenag. AICIS yang digelar rutin tiap tahunnya diharapkan dapat mendorong budaya riset pada PTKI.

“Untuk menciptakan budaya riset yang bermutu, saya minta agar Dirjen Pendidikan Islam melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dapat memfasilitasi penyediaan sumber referensi yang terintegrasi,” pesan Menag.

Dengan sumber referensi yang terintegrasi Menag berharap akan terjadi pertukaran informasi antara PTKI yang telah besar, maupun PTKI yang masih memiliki cakupan lebih kecil.

Berita terkait : Dirjen Pendis: AICIS, Ajang Aktualisasi Intelektual Muslim Dunia

Harapan kedua Menag, forum AICIS XVIII dapat memberi solusi terhadap masalah keagamaan yang mengganggu kerukunan umat beragama. “Kita tidak boleh menjadi menara gading yang terlalu asyik masyuk dengan penelitian atau diskusi yang hanya bermanfaat buat pribadi atau kampus kita sendiri saja,” tandas Menag.

Menurut Menag, banyak kasus kekinian yang membutuhkan respon yang tidak bersifat reaktif belaka, melainkan harus berdasar pada pertimbangan empirik hasil riset. Misalnya, kasus intoleransi umat mayoritas terhadap minoritas dan sebaliknya, kasus dugaan penodaan agama, fenomena generasi ‘medsos’ yang seakan enggan ‘beragama’ berbasis pada bacaan sumber primer, hingga kasus-kasus radikalisme dan terorisme.

Baca juga : Radikalisme Menjadi Tema Konferensi Sarjana Muslim Sedunia di Indonesia

Ketiga, Menag berharap AICIS XVIII juga berkontribusi bagi perwujudan perdamaian dunia. Menurut Menag, dunia kini semakin menyadari bahwa Muslim Nusantara memiliki kekhasan tersendiri dalam merespon konservatisme dan radikalisme berbasis keagamaan.

“Perjalanan sejarah dan peradaban Islam di kawasan ini telah mengajarkan kepada kita betapa para ulama Nusantara sesungguhnya telah mewariskan nilai-nilai wasathiyah yang telah lama mengakar dalam berbagai tradisi, budaya, dan agama yang ada,” kata Menag.

Dengan pertemuan kaum intelektual muslim di ajang AICIS XVIII, Menag berharap akan terjadi pertukaran pengalaman antara kaum intelektual muslim Indonesia dengan mancanegara. Hal ini menurut Menag memungkinkan kontribusi nyata para intelektual muslim untuk menjaga perdamaian dunia.

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: