kemenag

Giat Sri Ngadiyati Perangi Candu Gawai Anak Usia Dini

Sleman (Kemenag) — Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar dari ruang tamu Much. Habib di Desa Mororejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Habib, menyimak lantunan ayat-ayat suci yang dibaca oleh putri sulungnya, Salsabila. Sementara sang istri, Sri Ngadiyati, tampak dengan telaten membimbing Salsabila menyelesaikan bacaannya. Pemandangan ini yang kerap terjadi di rumah Habib, setiap malam selepas sholat magrib. “Seisi rumah kami berkumpul di sini untuk membaca Al-Quran,” kata Habib. 

Kebiasaan ini menurut Habib mulai dilakukan di rumahnya sejak  Sri Ngadiyati mengajar di Raudhatul Athfal (RA). “Sejak istri saya mengajar di RA, sudah menjadi kebiasaan bagi kami setiap habis magrib, tidak terbiasa menyalakan TV apalagi bermain Handphone sampai nanti makan malam bersama,” ujar Habib mengawali ceritanya. 

Menurut Habib, sejak mulai mengajar di RA Masyitoh, Sleman, Sri Ngadiyati mulai memiliki perhatian khusus untuk membuat aktivitas-aktivitas yang bertujuan menghindari  penggunaan gawai alias gadget. Perempuan kelahiran Sleman, 53 tahun yang lalu ini menyusun serangkaian aktivitas dalam rangka memerangi gawai, diantaranya tadarus Quran selepas magrib. 

Tak hanya di rumah, aktivitas perang gawai ini pun ia lakukan di RA tempatnya mengajar. Setiap pagi, Sri Ngadiyati memandu anak didiknya melantunkan surat-surat pendek yang terdapat di juzz 30 Al-Quran. Aneka permainan fisik pun ia kreasikan untuk mengalihkan perhatian siswa-siswanya dari candu gawai. 
Sri sadar, bahwa peperangan tersebut tidaklah mudah, karena aneka permainan yang ada dalam gawai amat menarik bagi anak didiknya yang masih berusia dini.  Berkali-kali, Sri membuat permainan baru yang tak hanya menarik dari segi pembelajaran, tapi juga ia harap bisa mengubah kebiasaan anak-anak yang kebanyakan sudah menjadi pecandu gawai pintar. Ia juga memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. 
“Bila anak-anak sudah belajar permainan tradisional di sini, diharapkan nanti di rumah mereka bisa bermain dengan teman-temanya yang lain,” kata Sri. 

Di RA yang berjarak 15 km dari rumahnya ini,  Sri juga mulai memperkenalkan berbagai permainan petualangan. “Anak-anak kita ajak belajar di luar kelas, dengan berbagai macam permainan. Permainannya mulai dari petualangan hingga permainan yang mengikutsertakan aneka makanan,” tutur Sri Ngadiyati. 

Di luar kelas, siswa-siswinya yang masih berusia lima hingga enam tahun sering ia ajak ke kebun salak. “Memanfaatkan lahan pertanian salak pondoh milik warga setempat, anak-anak diajari cara bercocok tanam,”lanjut Sri. 
Tak hanya itu, anak-anak ini pun ia ajarkan bagaimana mengolah buah salak menjadi panganan. “Anak-anak dilibatkan dalam proses membuat makanan cemilan mulai dari manisan, jenang, brownies, hingga minuman seduh. Pembuatannya melibatkan seluruh siswa,”kata Sri. 

Pembelajaran dengan media makanan inilah yang mengantarkan Sri menjadi pemenang Guru Berprestasi tahun 2017 yang diadakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Agama. Dalam proses pembelajaran yang dilakukan, Sri menanamkan nilai empati kepada para siswa melalui makanan yang dibawa. Emosi anak-anak, dilatih untuk dikendalikan agar bisa menghargai setiap makanan yang dibawa temannya. 

Menurutnya, kalau rasa empati itu sudah tumbuh dalam diri anak, maka kepribadiannya pun mudah untuk diarahkan. “Sehingga anak yang semula bermain dengan permainan yang kurang bermanfaat, bisa diarahkan atau bisa diatur dan beralih melakukan sesuatu yang lebih kreatif, selain itu juga menimbulkan rasa kepedulian satu sama lainnya,” katanya.

Aktivitas perang gawai yang dilakukan Sri Ngadiyati juga dilakukannya dengan mengenalkan anak-anak dengan aktivitas keagamaan. Ia menciptakan permainan Pantang Ria Panah Tangga. Dalam permainan yang dibuat hampir mirip dengan permainan ular tangga ini, Sri ingin mengajarkan anak didiknya untuk berlatih adzan, sholat, menghafalkan asma’ul husna, hingga menghafal doa-doa. 
“Ini dimainkan dengan cara melempar dadu besar lalu setiap angka yang dihasilkan, mengharuskan siswa untuk menjalankan tugas yang tertera di setiap kotak dan tingkatan yang ia peroleh. Dan setelah ada siswa yang berhasil meraih puncak permainan, saya memberikan apresisasi untuk memacu kemauan para siswa,” jelas Sri Ngadiyati. 

Sri Ngadiyati sadar, bahwa perjuangannya untuk memerangi gawai tak dapat dilakukan sendiri. Ia pun merangkul para orang tua murid untuk bersama-sama memerangi gawai. “Kita membuat komitmen bersama dengan para orang tua murid, untuk tidak memberikan gadget kepada anak-anak ketika di rumah. Dan kalaupun anak diizinkan menggunakan gadget, maksimal hanya 2 jam setiap hari dan itupun harus dibawah pengawasan orang tua. Hal ini kami lakukan untuk mencegah pengaruh buruk dan ketergantungan pada gadget,” terangnya. 
Langkah ini ternyata membuahkan hasil. Menurut para wali murid, keberadaan RA Masyitoh Kantongan cukup memberikan perubahan bagi anak-anak usia dini di Kelurahan Merdikorejo. Salah seorang wali murid, Tutiati mengatakan banyaknya jam tambahan dalam bentuk permainan di sekolah mampu mengendalikan anak untuk bermain gawai sewajarnya. “Kita sebagai orang tua memang tidak bisa membatasi ruang gerak anak dalam hal bermain, namun dengan banyaknya kegiatan di sekolahan setidaknya mengurangi ruang gerak untuk bermain menggunakan gawai pintar. Sementara di rumah, kalau tetap bermain maka kami batasi maksimal 1 jam per harinya itupun di luar jam belajar,”kata Tutiati. 

Hal senada pun diungkapkan Ketua Komite RA Masyitoh Kantongan, perubahan sedikit demi sedikit sudah dirasakan oleh para orang tua yang melihat perkembangan anaknya yang semakin baik perilakunya. 
“Sejak tahun 1984 warga kampung sini dengan bersuka rela iuran seratus rupiah setiap minggunya agar RA Masyitoh ini bisa berdiri di lahan tanah wakaf Masjid. Dan setelah sekolahan ini berdiri dan anak-anak dari warga kampung bersekolah, anak-anak yang mau belajar Al-Qur’an juga semakin bertambah” ungkap Ahmadi Ketua Komite RA Masyitoh. (zahirul/hikmah)

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment



smallseotools.com

%d bloggers like this: