kemenag Kerukunan

Dialog Kerukunan, Sekjen Ajak Tokoh Agama Perkuat Spiritualitas Umat

Sidoarjo (ikhlasberamalnews) — Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan mengajak tokoh agama perkuat landasan spiritual umat. Ajakan ini disampaikan M Nur Kholis saat menjadi pembicara pada kegiatan Dialog Kerukunan Antar Umat Beragama, Deklarasi Lawan Narkoba, dan Pencanangan Pembangunan Zona Integritas di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.

“Jika sudah memiliki landasan spiritualitas yang kuat dan kokoh, apapun yang terjadi maka tidak mudah putus asa, galau dan selalu berbaik sangka. Apapun yang terjadi, yang pertama muncul adalah berbaik sangka pada Allah dan menjadikan sebagai ladang ibadah,” terang Sekjen di Sidoarjo, Jumat (12/07).

Sekjen lantas menjelaskan makna agama menurut Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Ia menuturkan, agama secara substansi adalah spiritualitas, bukan semata-mata syariat.

“Ketika agama sebagai perekat sosial didekati dengan perspektif syariat, maka yang muncul adalah perbedaan. Bila didekati dengan perspektif spiritualitas sebagai basis yang fundamental, maka kita bisa melakukan tugas kita dengan baik,” ujarnya di hadapan 300 peserta tokoh lintas agama serta lintas sektoral.

Lantas, bagaimana memperkuat spiritualitas? Sekjen menggarisbawahi pentingnya mempelajari sejarah hidup sahabat, tabi’in, dan para wali. Mengutip Ihya ‘Ulumiddin, Sekjen menyebutkan: In aradta maziidan, fa ‘alaika bil muwaadhabati ‘alaa muthaala’ati hilytil awliyaa’i wa thabaqaatil ashfiyaa’i. Fa huwa musytamilun ‘alaa ahwaalish-shahaabati wat-taabi’iina wa man ba’dahum.

“Penting bagi kita membaca riwayat/perjalanan hidup para awliya, salah satunya yang terekam dalam buku Hilyatul Awliyaa wa Thabaqaat al-Asfiya. Dengan begitu, kita bisa meneladani kesalehan mereka,” tuturnya.

Terkait munculnya konflik di Indonesia yang sering mengatasnamakan agama, Sekjen menuturkan bahwa itu bukan semata karena masalah agama. Biasanya, hal itu berawal dari konflik sosial yang lantas dibungkus oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan membawa agama.

Menurut Sekjen, setidaknya ada 4 hal yang memicu munculnya konflik di tengah masyarakat, yakni deprivasi relatif, dislokasi, disorientasi, dan negativisme.

Deprivasi relatif adalah adanya perasaan ditinggal oleh komunitas, tetangga pendatang jauh lebih sejahtera dari pada dirinya. Devivasi relatif ini akan memunculkan dislokasi yang membuat perasaan tidak nyaman seseorang terhadap lingkungan yang ia hadapi.

Setelah itu, lanjut Sekjen, muncullah disorientasi, seseorang yang tidak memiliki orientasi untuk menyiapkan masa depan diri dan keluarga. Puncaknya akan muncul negativisme yang menganggap segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya adalah negatif.

“Empat hal tersebut harus selalu diwaspadai karena bisa menjadi akar konflik yang lebih luas. Saya minta tokoh agama dan masyarakat tidak mudah terprovokasi pada segala hal yang dihembuskan para aktor yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.

Selain dialog antar umat beragama, kegiatan tersebut juga dikemas dengan deklarasi pencanangan pembangunan zona integritas, yang disaksikan dan ditandatangani oleh Sekjen Kemenag RI serta tokoh lintas sektoral. (isn)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: