kemenag

Buka Sidang Sinode GPM, Sekjen Ingatkan Toleransi dan Kearifan Lokal Maluku

Ambon (ikhlasberamalnews) — Sekjen Kemenag Nizar Ali mewakili Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membuka  Sidang ke-38 Sinode, Gereja Protestan Maluku (GPM). Sidang berlangsung di Gereja Maranatha yang beralamat di Uritetu, Sirimau, Kota Ambon, Maluku, Minggu (07/02).

Hadir, Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury, Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail, dan panitia. Pembukaan ditandai dengan penyiraman air ke dalam pot bunga, hingga pohon bunga tumbuh mekar menjulang.

“Budaya pela gandong yang merupakan bingkai pemersatu antara orang-orang Maluku perlu terus dilestarikan sehingga Provinsi Maluku bisa menjadi suatu contoh toleransi bagi provinsi-provinsi lainnya di Indonesia,” kata Nizar Ali membacakan sambutan tertulis Menag Yaqut Cholil Qoumas, di gereja Maranatha, GPM, kota Ambon.

Nizar Ali menyampaikan bahwa provinsi Maluku dikenal dan dikenang sebagai provinsi yang penuh dengan damai, walaupun masyarakatnya heterogen.

“Provinsi Maluku adalah provinsi yang bukan saja terkenal dengan keindahan alam dan hasil  buminya. Provinsi Maluku juga dikenal dengan toleransi beragama yang tinggi, di mana masyarakatnya hidup dalam rukun dan damai, saling menghargai dan menghormati satu dengan lainnya,” kata Nizar.

Disampaikan Nizar, kerukunan umat beragama yang merupakan pilar kerukunan nasional yang dinamis harus terus dipelihara dari waktu ke waktu. Untuk itu, lanjut Nizar, setiap orang tidak boleh berhenti membicarakan dan mengupayakan pemeliharaan kerukunan umat beragama di Indonesia. Kerukunan umat beragama merupakan keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Kearifan lokal atau yang dikenal dengan local wisdom merupakan kebiasaan setempat yang tercipta dari hasil adaptasi suatu komunitas yang berasal dari pengalaman hidup yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi,” tambah Nizar.

Bagi Nizar, kearifan lokal merupakan kebiasaan lokal yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk bertahan hidup dan beradaptasi dalam suatu lingkungan. Kearifan lokal tersebut menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya dan diekspresikan di dalam tradisi yang diyakini dalam jangka waktu yang lama. Proses regenerasi kearifan lokal dilakukan melalui tradisi lisan (cerita rakyat) dan karya-karya sastra, seperti babad, suluk, tembang, hikayat, lontarak dan lain sebagainya.

“Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak kearifan lokal. Sayangnya, masih banyak pihak-pihak yang belum menyadari sepenuhnya bahwa kearifan lokal itu dapat dijadikan komponen penting, terutama untuk mewujudkan kerukunan. Masing-masing daerah, suku atau komunitas dalam suatu wilayah akan memiliki pengetahuan tradisional yang secara empiris merupakan nilai yang diyakini oleh komunitasnya sebagai pengetahuan bersama dalam menjalin hubungan antara sesama dan lingkungan alamnya,” papar Nizar.

Diakui Nizar, masyarakat Maluku sebagai satu kesatuan geografis, suku, ras, agama memiliki nilai kearifan lokal yang telah teruji dan terbukti daya jelajah sosialnya dalam mengatasi berbagai problematika kehidupan sosial. Nilai kearifan lokal seperti pela gandong, ain ni ain, hidup orang basudara itu adalah potong di kuku, rasa di daging, ale rasa, beta rasa, sagu salempeg di bage dua.

“Ini diyakini sebagai perekat sosial yang kerap menjadi acuan dalam menata hubungan dan kerukunan antar sesama umat beragama di Provinsi Maluku. Pela gandong merupakan suatu sebutan yang diberikan kepada dua atau lebih negeri yang saling mengangkat saudara satu sama lain. Pela gandong sendiri merupakan intisari dari kata “pela” dan “gandong”. Pela adalah suatu ikatan persatuan sedangkan gandong mempunyai arti saudara. Jadi pela gandong merupakan suatu ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara,” jelas Nizar.

Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail mengucapkan selamat datang di Ambon Manise kepada Sekjen Kemenag RI Nizar Ali, Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury beserta rombongan.

“GPM telah berkiprah di Maluku dan Maluku Utara dalam membangun umat, hingga pada tingkat global,” kata Murad Ismail.

Irjen Pol (Purn) Murad Ismail berharap agar GPM terus tumbuh menjadi gereja di hati bangsa. Membangun ketahan sosial, merajut toleransi dan membina perdamaian serta mewujudkan kemaslahatan bersama.

“GPM harus mampu membuat program pelayanan yang peka terhadap realitas zaman. Bekerjasama dengan pemerintah, agar lebih inovatif, kreatif dan mampu berkompetisi diberbagai sektor,” pesan Murad Ismail.

“Selamat Sidang ke-38 Sinode, Gereja Protestan Maluku (GPM), semoga terus membawa kebaikan pada sesama di jalan Tuhan,” tutup Gubernur Maluku. Sidang ke-38 Sinode, Gereja Protestan Maluku (GPM) dihadiri juga oleh Gubernur Maluku Utara, perwakilan DPR D, Forkopimda, tokoh agama dan seluruh jajaran sinode GPM, undangan sidang Sinode ke-38 di Ambon, dan Kakanwil Kemenag Maluku Jamaludin Bugis.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: