kemenag

Ajaran Khonghucu dalam Menghadapi Intoleransi Identitas Keagamaan

Judul tulisan ini menitikberatkan pada Intoleransi Identitas Keagamaan. Pada dasarnya, semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama manusia, mengembangkan peri-cinta kasih, menjunjung kebenaran, bersikap adil dan bijaksana. Namun, perjalanan sejarah peradaban manusia juga mencatat, ada kelompok-kelompok orang yang mengatasnamakan agama untuk melakukan pembenaran atas tindakan-tindakan kekerasan, diskriminasi, atau pelecehan terhadap orang lain yang berbeda agama dengannya.

Kejadian seperti ini sangat sensitif, dapat memicu timbulnya sentimen emosional para pihak dan ujungnya bisa terjadi pertikaian. Adakalanya tersulut konflik massal yang meluas sehingga mengganggu ketenteraman serta keamanan masyarakat umum. Padahal, bila diteliti dengan seksama, awal mula terjadinya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama tersebut terkadang adalah ulah sekelompok kecil yang diawali dengan masalah pribadi, sama sekali tidak berkaitan dengan agama.

Berikut ini penulis mencoba membahas kebijakan di dalam mengeliminasi fenomena Intoleransi Identitas Keagamaan dari sudut pandang agama Khonghucu.

Keimanan dasar pertama ajaran Agama Khonghucu, dimulai dari penjelasan di ayat kitab suci Tengah Sempurna Bab Utama, yang berbunyi: Firman Tuhan itulah dinamai Watak Sejati; hidup mengikuti Watak Sejati itulah dinamai menempuh Jalan Suci (Dao); Bimbingan menempuh Jalan Suci itulah dinamai Agama (Jiao).

Artinya, Tuhan menciptakan manusia dan diberi Watak Sejati ke dalam hatinya. Watak Sejati itu dimanifestasikan sebagai sifat-sifat cinta kasih, menjunjung kebenaran, bersikap adil dan bijaksana, serta menyukai keindahan/kesusilaan. Selain itu, Watak Sejati juga memiliki sifat setia dan dapat dipercaya, bertanggung jawab terhadap tugas maupun kewajibannya, memiliki rasa malu bila berbuat salah atau tidak susila, memiliki rasa bakti kepada orang tua, serta rendah hati dan jujur. Watak Sejati inilah yang harus dijalankan oleh manusia agar selalu di dalam Jalan Suci (Dao) yang diridai Tuhan.

Namun, manusia selain merupakan mahluk mulia yang memiliki Watak Sejati, ia juga memiliki sifat kehewanan. Yaitu, nafsu serta keinginan yang harus dikendalikan agar tidak merusak/melalaikan tugas serta tanggung jawabnya mengembangkan Watak Sejati tersebut. Tuhan Maha Bijaksana, mengutus para Nabi menuliskan kitab-kitab suci yang disebut agama, agar manusia dituntun untuk tidak keluar dari Jalan Suci Tuhan.

Keimanan dasar kedua, adalah yang tertulis di dalam kitab Ajaran Besar bab utama, yang berbunyi:  Intisari Ajaran Besar adalah menggemilangkan kebajikan yang bercahaya, mengasihi rakyat, dan berhenti pada puncak kebaikan. Artinya, seorang siswa wajib mengasah dan mengembangkan kebajikan (Watak Sejati) yang ada di dalam dirinya. Manifestasinya diwujudkan dalam pengabdian kepada orang tua, keluarga, masyarakat, dengan cara memberikan sumbangsih positif, dan tetap mempertahankan karya serta produktifitas positif tersebut sepanjang hayatnya.

Langkah awal dimulai dari pembinaan diri. Misalnya, mencukupkan pengetahuan dengan giat belajar, memiliki tekad dan semangat yang baik, meningkatkan iman serta ketakwaan terhadap Tuhan dengan belajar kitab suci dan berguru kepada para arif bijaksana. Setelah diri sendiri terbina dengan baik, maka barulah dapat membina keharmonisan keluarga yang baik; dan selanjutnya berperan positif di dalam kerukunan bermasyarakat, serta negara, bila masih mungkin berperan positif mendamaikan dunia.

Di sini, setiap umat manusia dimaknai sebagai bagian penting dari kedamaian. Setiap manusia wajib berperan aktif sebagai juru damai dalam semua situasi. Jangan menempatkan diri sebagai perusak perdamaian yang telah tercipta.

Keimanan dasar ketiga, adalah keteladanan dan pembagian tugas, toleransi dan persaudaraan universal. Ajaran ini dapat disimak dari ayat-ayat berikut: 

–  Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain

–  Di empat penjuru samudera adalah bersaudara 

– Bila diri sendiri ingin tegak, maka bantulah orang lain juga tegak; bila diri sendiri ingin maju, maka bantulah orang lain juga maju.

– 5 Tatanan Hubungan Sosial yang wajib dimuliakan, yaitu: di antara pemimpin/raja dengan bawahan/menteri harus dilandasi cinta kasih dan kebenaran; di antara suami dan istri harus dilandasi cinta kasih dan pembagian tugas; di antara orang tua dan anak harus dilandasi kasih sayang dan bakti; di antara kakak dan adik harus dilandasi keteladanan dan hormat; di antara teman dan sahabat harus dilandasi saling dapat dipercaya. Bila lima hubungan sosial ini dijalankan dengan tertib, maka damai sejahtera akan meliputi langit dan bumi.

Demikianlah, intoleransi identitas keagamaan ini sesungguhnya dapat terhapus, apabila dapat dikembangkan dan dipahami dengan baik, bahwa semua umat beragama, meskipun memiliki nama agama yang berbeda, kitab suci yang berbeda, tata ibadah serta tempat ibadah yang berbeda, namun semua ini adalah ciptaan Tuhan, yang berkehendak agar umat manusia yang berbeda-beda ini saling melengkapi, saling mengisi dan saling membantu, agar sama-sama maju memuliakan nama Tuhan secara bersama-sama. Atas nama Tuhan Sang Pencipta, kita semua umat manusia bersaudara adanya.

Tian memberkati kita semua, hanya kebajikan Tian berkenan. Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De Shanzai (semoga yang baik selalu tumbuh dan berkembang).

 

Ws. Ir. Djohan Adjuan (Rohaniwan Khonghucu)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: